Ilmu pengetahuan adalah kebutuhan mutlak semua manusia. Islam pun mengajarkan kita untuk memiliki ilmu pengetahuan yang luas. Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu. Menuntut ilmu di jalan Allah dihitung sebagai ibadah. Bahkan, bilamana kita wafat saat hendak atau setelah menuntut ilmu, maka kita akan mati syahid, yakni meninggal saat berjuang di jalan Allah. Orang yang berilmu pun bisa menjadi amal yang tak henti-hentinya mengalir dalam makam seseorang tatkala Ia telah meninggal, bila dahulu Ia bisa mengamalkan ilmunya, dan memanfaatkan ilmunya untuk menolong orang lain, mengharumkan nama agama Islam, dan seterusnya. Itu semua adalah deskripsi dari orang yang mengembangkan ilmu pengetahuan dengan imannya. Dan senantiasa ia lakukan untuk Allah. Lalu bagaimana bila ia hanya menggunakan akal saja? Waduh, na'udzubillah deh!
Seorang Einstain saja mengatakan bahwa ilmu pengetahuan itu membutuhkan agama agar ada yang mengendalikannya. Kalau tidak, maka ilmu pengetahuan ini akan menjadi mesin pembunuh manusia yang sangat keji. Penemuan senjata biologis yang mampu memusnahkan manusia secara massal adalah salah satunya. Senjata biologis ini bahkan membuat satu pulau tak berpenghuni karena tanahnya mengandung anthrax yang bisa membunuh manusia.
Seorang Einstain saja mengatakan bahwa ilmu pengetahuan itu membutuhkan agama agar ada yang mengendalikannya. Kalau tidak, maka ilmu pengetahuan ini akan menjadi mesin pembunuh manusia yang sangat keji. Penemuan senjata biologis yang mampu memusnahkan manusia secara massal adalah salah satunya. Senjata biologis ini bahkan membuat satu pulau tak berpenghuni karena tanahnya mengandung anthrax yang bisa membunuh manusia.
Pengembangan Ilmu Pengetahuan tanpa Iman dan Hati Nurani
Sumber: http://www.anneahira.com/perkembangan-ilmu-pengetahuan.htm
http://copyjava.blogspot.com/2012/08/foto-foto-bayi-gagal-kloning-mengerikan.html

Penyalahgunaan ilmu pengetahuan seperti kloning itu sendiri sebenarnya telah dinyatakan sebagai sesuatu yang membahayakan. Bayangkan saja, melihat bentuk bayi yang gagal dikloning, pasti akan membuat orang yang masih mempunyai hati nurani akan berteriak. Bayi-bayi itu berbentuk seperti kodok, bayi dengan mata yang sangat besar di bagian dahi, bayi dengan bagian organ dalam terburai, dan lain sebagainya.
ang menjadi bahan percobaan itu tak bersalah. Dengan tanpa rasa kemanusiaan sedikit pun orang-orang yang diberi pengetahuan itu mencoba berbagai hal dalam mewujudkan karya yang menentang alam. Tak, ingatkan mereka kalau bayi-bayi itu adalah calon manusia di bumi. Wakil Allah di bumi! Allah pasti marah dengan semua itu. Sementara waktu memang ada yang berhasil. Tetapi lihatlah hasilnya. Produk kloning itu biasanya tidak mempunyai imunitas tubuh yang bagus sehingga mereka mudah sekali diserang oleh penyakit dan akan mati dalam waktu yang tidak lama.
Kloning ini sendiri merupakan satu pembuahan tanpa menggunakan sperma. Inilah satu hal yang menentang alam. Kalau tanpa sperma, pasti akan ada sesuatu yang salah dengan produk kloning itu. Kejadian yang diluar batas ini telah membuat produk kloning mengalami berbagai komplikasi yang membahayakan. Bahkan ada seekor babi yang diberikan hormon manusia akhirnya tumbuh besar namun lumpuh. Tak usah manusia yang dicoba. Kelinci yang disilangkan dengan ras yang berbeda tidak akan menghasilkan kelinci yang sehat dan dapat bertahan hidup dengan baik.
Orang-orang yang mengaku ilmuwan itu harus belajar ilmu hati dan bagaimana menggabungkan kecerdasan otak dan kecerdasan hati. Mereka tidak boleh serta merta mengatasnamakan pengetahuan dan dengan beraninya melakukan apapun yang bsia mereka lakukan. Bahkan kini terdengar kabar bahwa para ilmuwan dibidang ilmu rekayasa genetika sedang mengupayakan satu teknik yang akan menghasilkan bayi super yang sehat jasmani dan rohani. Seorang bayi yang benar-benar dirancang dengan biaya yang cukup mahal. Bayi dengan bentuk fisik yang diinginkan dan keadaan rohani yang sempurna. Astaghfirullah.. Bukankah Allah yang maha berkehendak menciptakan hambanya?
Pikiran manusia itu memang sangat aneh. Pembentukan kepribadian dianggap sebagai sesuatu yang bisa dirancang jauh sebelum bayi dilahirkan dengan bantuan teknologi. Lalu apa fungsi pendidikan dan pengasuhan orangtua? Kalau dituruti, maka dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin pesat, ditakutkan manusia semakin sombong. Padahal seharusnya, semakin tinggi ilmu seseorang, ia akan semakin tahu dengan Tuhannya, yaitu Allah. dan ia akan semakin bertakwa. Sayangnya, semkain maju ilmu pengetahuan yang dimiliki malah terkadang semakin membuat orang tersebut semakin jauh dengan Allah.
Betapa ruginya bila hal ini sampai terjadi. Untuk apa mempunyai pengetahuan yang tinggi tetapi tidak memiliki keimanan. Tanpa iman, pengetahuan yang tinggi itu akan menyesatkan. Kisah Alfred Nobel yang akhirnya menyumbangkan semua hartanya demi pengetahuan dimulai dari ketika ia membaca satu artikel tentang kematiannya sendiri. Artikel itu tentu saja salah. Tetapi membaca apa yang akan dikenang orang tentang dirinya, membuatnya berpikir bahwa pengetahuan yang sebenarnya itu adalah pengetahuan yang bermanfaat bagi kesejahteraan manusia dan bukan pengetahuan yang memussuhi atau bahkan membunuh manusia.
Kok fotonya g keluar ya.. Padahal a must see.. :/
BalasHapus